Jumat, 10 Juni 2011

bebek tegal pesurungan lor

Kota Tegal merupakan salah satu kota di pantura Jawa Tengah yang ditetapkan sebagai wilayah sub pusat pertumbuhan Jawa Tengah bagian barat dan menjadi medan magnet bagi daerah sekitarnya. Dengan Luas wilayah 38.50 km2, terdiri dari lahan kering seluas 2.768,27 ha,  lahan sawah 1.081 m 73 ha serta memiliki luas wilayah pantai 839,15 ha. Salah satu usaha peternakan yang sangat berkembang disana adalah usaha peternakan itik.Saat ini usaha peternakan telah diupayakan untuk dikelola secara terpadu dengan sistem kandang dalam satu kawasan. Jumlah peternak itik mencapai 66 orang dengan populasi itik sekitar 66.000 ekor. Untuk mendukung perkembangan usaha peternakan dan pembibitan itik ras branjangan asli kota tegal, pemerintah telah menetapkan lahan seluas 6 ha namun yang  dimanfaatkan baru seluas 2 ha. Kota tegal merupakan salah satu pemasok utama telor itik ke brebes sebagai bahan baku pembuatan telur asin, namun seringkali permintaan pasar tidak dapat terpenuhi karena keterbatasan kapasitas produksi. Besarnya pasar telur itik yang belum tergarap ini membuktikan masih sangat diperlukannya pemgembangan ternak itik, terlebih lagi jumlah permintaan yang ada jauh lebih besar dari jumlah produksi.
Keunggulan dari usaha ternak itik oleh petani pedesaan, yakni sebagai berikut :
  1. Potensi sumber daya alam pedesaan cukup kondusif bagi pengembangan ternak itik. Status fisiologis itik sebagai unggas air, memungkinkan itik dapat dipelihara mulai dari daerah rawa sampai pasang surut. Bagi daerah kering, ternak dapat pula dipelihara dengan sistem pemeliharaan.
  2. Ternak itik merupakan unggas lokal yang telah lama dipelihara masyarakat pedesaan dan telah beradaptasi dengan kondisi iklim pedesaan dan masyarakat desa.
  3. Walaupun secara fisiologis itik merupakan unggas air tetapi tidak menutup kemungkinan, itik dapat dipelihara secara intensif pada lahan terkurung tanpa memberikan pengaruh buruk terhadap produksinya.
  4. Tahan terhadap serangan penyakit.
  5. Dapat dipelihara sederhana dengan pakan seadanya. Itik sanggup mencari sendiri pakan yang dibutuhkannya berupa butiran gabah yang tercecer selepas panen, ikan-ikan kecil, siput, cacing dan sisa dapur. Ketersediaan sumber pakan itik yang beragam di pedesaan diperkirakan dapat mendukung pengembangan ternak itik sebagai komponen usahatani terpadu.
  6. Sebagai komponen usahatani terpadu di pedesaan, ternak itik sangat potensial dikembangkan dan diintegrasikan dengan usaha tanaman pangan dan kolam ikan.
  7. SDM penyuluh yang cukup tersedia di daerah pedesaan.
Prospek peluang usaha peternakan itik cukup menjanjikan berdasarkan alasan bahwa:
  1. Produksi ternak itik  200-240 butir telur per ekor per tahun. Dengan asumsi harga jual Rp. 800 per butir, telur itik sangat potensial sebagai sumber pendapatan dan merupakan usaha baru yang prospektif, disamping sebagai sumber protein hewani keluarga petani.
  2. Permintaan pasar terhadap produk itik (telur dan daging) secara nasional masih besar. Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan tersebut, pemeliharaan itik secara semi maupun intensif layak dikembangkan.
  3. Telur itik cukup disukai oleh konsumen, baik untuk dimakan sehari-hari maupun sebagai bahan baku pembuatan makanan ringan lainnya seperti kue.
  4. Preferensi konsumen yang cukup tinggi pada produk peternakan itik.
  5. Semakin naiknya kebutuhan masyarakat akan bahan pangan kaya protein hewani, sebagai akibat membaiknya pendapatan dan pengetahuan gizi. Kandungan protein telur itik cukup tinggi, yakni sekitar 13,3%. Itik merupakan ternak penghasil daging yang cukup gurih dan banyak diminati oleh masyarakat. Kandungan protein daging itik sebesar 21,4%, lebih tinggi dari kandungan protein daging ayam, sapi dan domba.
  6. Adanya dukungan potensi sumber daya kelembagaan yang ada di pedesaan berupa kelompok tani, kelembagaan penyuluhan dan kelembagaan keuangan dalam bentuk Usaha Simpan Pinjam.
  7. Dukungan dari kemajuan teknologi peternakan dan bioteknologi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan produksi telur itik.


    SAMPAI saat ini di Kota Tegal khususnya Kelurahan Pesurungan Lor, Kecamatan Margadana, ada 350 itik yang masuk dalam 8 kelompok peternak.
Namun baru 35 peternak terakomodasi sentral itik, yang dibangun Pemerintah Kota (Pemkot) Tegal. Tepatnya kelompok Peternak Itik Satelit Sejahtera. Sedangkan sekitar 315 peternak saat ini masih berada di kawasan pemukiman. Sehingga keberadaannya menimbulkan masalah pencemaran lingkungan. Karena pembuangan limbahnya langsung ke saluran. Selain itu, bau tak sedap selalu mewarnai situasi wilayah sekitar.
Untuk menekan tingkat pencemaran, Kantor Kelurahan Pesurungan Lor telah menyusun proposal pembangunan sentral ternak itik di eks bengkok kelurahan, dengan anggaran sekitar Rp. 107 miliar. Namun imbas pembangunan sentral ternak itik, Kota Tegal memiliki potensi baru Pendapatan Asli Daerah (PAD). “Sentuhan Dinas Kelautan dan Pertanian (Dislatan, red) terhadap peternak itik kurang maksimal. Sebab lebih memperhatikan masalah produktifitas. Sedangkan berkaitan limbah belum mendapat penanganan serius,” ujar Kepala Kelurahan Pesurungan Lor, Dores I Nugroho, kemarin.
Menurutnya, guna menangani masalah peternak itik, utamnya menampung 315 peternak yang tergabung dalam 7 kelompok tani, pihaknya telah menyusun proposal pembangunan sentral itik di lahan seluas 3,2 hektare. “Karena dari 5 hektare eks bengkok, baru 1,8 hektare yang dimanfaatkan untuk bangunan sentral itik. Sedangkan anggaran, sesuai hasil perhitungan menghabiskan Rp. 107 miliar. Proposal telah disusun, bahkan saat ini dikirim ke wali kota, lalu diteruskan pada menteri pertanian.”
Dengan pembangunan sentral itik, tukas Dores, pihaknya optimis dapat menekan tingkat pencemaran. Sebab tak ada lagi peternak yang berada di kawasan pemukiman penduduk. Karena menganggu aktivitas masyarakat sekitar. “Pembangunan sentral ternak itik sekaligus menyongsong Tegal Bisnis tahun 2013 mendatang. Hasil perhitungan sementara, pendapatan sentral itik setiap tahunnya ada PAD baru dari sektor peternakan itik sekitar Rp. 1 miliar. Belum pendapatan dari pengelolaan pakan itik, pengasinan serta aktivitas lain yang mendukung peternakan itik. Sehingga kalau dihitung, maka PAD baru dari sektor ini Rp. 2 miliar lebih,” paparnya mantap.
Lebih lanjut dia menandaskan, mayoritas masyarakat Kelurahan Pesurungan Lor memiliki aktivitas, yang berhubungan dengan ternak itik. Dari 1.300 Kepala Keluarga (KK), 350 KK merupakan peternak, atau 30 persen penduduka kelurahan tersebut. “Belum lagi aktivitas lain, sehingga kalau kami kalkulasi, 50 persen penduduk Kelurahan Pesurungan Lor memiliki aktivitas ternak itik."
Di tempat terpisah, Ketua Komisi II DPRD, Hendria Priatmana SE menyatakan dukungan atas upaya pihak Kelurahan Pesurungan Lor. Karena imbasnya, muncul pendapatan baru yang dapat mendongkrak PAD. Apalagi kalau dikelola maksimal, pasti pendapatan dari sektor ini lebih dari Rp. 2 miliar. “Sehingga kami berharap Pemkot melalui Dislatan, mampu memperjuangkan rencana pembangunan sentral itik di eks bengkok Kelurahan Pesurungan Lor. Disamping mendapatkan pendapatan baru, juga menekan tingkat pencemaran lingkungan. Karenan itu anggarannya besar, maka tidak mungkin di-back up APBD. Sehingga kami minta Pemkot melakukan komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah Propinsi Jawa Tengah atau pusat, guna pembangunan sentral peternak itik."
SEBAGAI (SM) daerah yang berada di jalur pantura dan selama ini hanya dikenal sebagai kota transit dan Kota Bahari, Tegal ternyata menjadi salah satu daerah sentra peternakan itik di Indonesia.

Wilayah yang dipercaya sebagai cikal bakal itik tegal adalah Kelurahan Pesurungan Lor, Kecamatan Margadana, Kota Tegal.

Di tempat itu, terdapat 392 peternak dengan jumlah ternak 150.000 ekor. Produksi rata-rata telur, 75.000 butir per hari. Para peternak ada yang tergabung dalam kelompok usaha dan ada pula yang berdiri sendiri.

Seiring dengan perjalanan waktu dan diimbangi ketekunan para peternak, peternakan itik di daerah itu semakin maju pesat. Sejumlah prestasi dan penghargaan pernah mereka terima, antara lain sebagai pemenang pertama lomba agrobisnis tingkat nasional tahun 2005 dan memperoleh sertifikat Best Economic Asian Award pada September 2003.

Akhirnya, kawasan itu dijadikan kawasan percontohan itik nasional. Bahkan sejak dua tahun terakhir, telah dibangun Kawasan Itik Terpadu bernama Satelit Sejahtera di bawah pengelolaan Koperasi Serba-Usaha (KSU) Purwadiwangsa.

"Kami sering dikunjungi dan dijadikan tempat studi banding ternak itik. Mereka yang datang di antaranya peternak dari Sumatra dan Sulawesi," ujar Manajer Koperasi Yermia, kemarin.

Menurut dia, peternakan itik di Kota Tegal sudah berlangsung sejak puluhan tahun silam. Semula, masyarakat di sana memelihara itik dengan cara mengembala. Mereka membiarkan ternak mencari makan di sawah atau di air comberan.

Kemudian, para peternak mulai mengenal sistem kandang pada tahun 1980. Dengan pemeliharaan itik di dalam kandang secara teratur, makanan itik terjaga dan lingkungan terawat kebersihannya. Dengan demikian, produksi telur pun lebih optimal.

Dalam kondisi normal, produksi telur dari 350 peternak yang menjadi anggota koperasi mencapai 50.000 butir per hari.

Namun dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), para peternak tidak mampu lagi membeli pakan. Akibatnya, peternak itik di Kelurahan Pesurungan Lor, Kecamatan Margadana, banyak yang memilih menjual itik yang dimilikinya, dengan alasan tidak mau menanggung kerugian besar.

Data dari Koperasi Purwadiwangsa menyebutkan, semula peternak itik di wilayah itu 350 orang. Saat ini, 180 peternak terpaksa menutup usaha. Pasalnya, mereka tidak mampu mengimbangi kenaikan harga pakan yang tidak sebanding dengan hasil produksi. Bahkan produksi telur dari para peternak menurun hingga 5.000 butir per hari.

"Selain akibat kenaikan harga pakan, hal itu juga dipengaruhi oleh hujan. Sebab saat musim hujan, produksi telur hanya 30%-40%," tutur Yermia.

Kondisi itu menimbulkan banyak pengangguran. Bisa dikatakan, kondisi mereka sekarang sangat jauh dengan keberhasilan mereka tahun lalu.

Pada Juni 2005 lalu, kelompok ternak itik di wilayah itu mendapat predikat juara I lomba agrobisnis tingkat nasional.

1 komentar: